Orang yang benar-benar ingin pergi, tak akan bilang “Ok, aku pergi!”
Orang yang benar-benar ingin menyerah, tak akan bilang “Ok, aku menyerah!”
Orang yang benar-benar ingin mati, tak akan bilang “Aku ingin bunuh diri!”
.
Mengapa?
.
Karena jika ia memang ingin benar-benar pergi, ia akan pergi dalam diam agar langkahnya tak dihalangi. Seseorang yang mengumumkan dirinya akan pergi, sesungguhnya ingin memperoleh reaksi dari orang lain. Entah untuk mencari tahu apakah kepergiannya akan berarti sesuatu bagi orang lain, atau bahkan memberi kesempatan kepada orang lain untuk menghalangi kepergiannya.
.
Orang yang benar-benar berniat menyerah akan langsung meninggalkan apa yang sedang diperjuangkannya. Karena sesungguhnya “menyerah” adalah tanda “ketidakberdayaan” yang merupakan kekurangan dan mungkin malu untuk diumumkan. Lain halnya dengan mereka yang berkata “ingin menyerah”. Mereka mungkin masih menyimpan setitik harapan, hanya saja merasa tak berdaya. Mereka membuka diri untuk “disemangati” dan “dikuatkan”. Karena ketidakberdayaan itu belum pada batas akhir sehingga masih bisa diangkat menjadi berdaya oleh semangat positif dari luar.
.
Demikian pula dengan orang yang berkata “ingin mati”. Mereka masih menyimpan harapan untuk diselamatkan dari jurang keputusasaan hidup.
.
Mungkin memang demikianlah bahasa verbal yang digunakan oleh manusia, untuk mengkomunikasikan keinginannya. Untuk menjembatani antara relung pribadi tempat niat dan keinginan itu ditempa, dengan lingkungan di luar dirinya di mana ia bisa mendapatkan reaksi dari keinginannya itu. Bahasa verbal untuk membuka diri terhadap interaksi inter-personal yang menjadikan dirinya bagian dari populasi dan merasa tidak sendiri.
.
Maka itu, ketika masih banyak keluh kesah, masih tersimpan harapan di sana. Hanya perlu dikuatkan dan disemangati. Namun ketika sudah terdiam dan menghilang tanpa jejak, sesungguhnya ia sudah pergi melepaskan apa yang ia perjuangkan selama ini.
__________
Repost from New World (Alm.)
NIGHTNIGHT by DEDDY